Bulog Beli 2.350 Ton Beras dari Petani di Sulut, Terbanyak dari Bolaang Mongondow

Antara ยท Rabu, 24 Juni 2020 - 19:18 WIB
Bulog Beli 2.350 Ton Beras dari Petani di Sulut, Terbanyak dari Bolaang Mongondow
Ilustrasi gudang beras Bulog. (Foto: Ist)

MANADO, iNews.id - Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Sulawesi Utara Gorontalo (Sulutgo) telah membeli 2.350 ton beras dari para petani di Sulut. Realisasi penyerapan beras petani itu terdata sejak Januari hingga Juni 2020.

Beras lokal tersebut dibeli Bulog dari beberapa kabupaten di Sulut. Bulog paling banyak memasok dari Kabupaten Bolaang Mongondow, Kabupaten Minahasa, Kabupaten Minahasa Tenggara.

"Kami akan berupaya menyerap semua yang akan dijual petani ke Bulog, berapapun akan kami beli," kata Kepala Perum Bulog Divre Sulut Eko Hari Kuncahyo di Manado, Rabu (24/6/2020).

Eko mengatakan, hingga pertengahan tahun ini, realisasi penyerapan beras memang tidak sesuai dengan target. Ini dipengaruhi kondisi di SulutGo yang bukan daerah produksi beras.

Adapun harga beli gabah telah diatur di Inpres Nomor 5 Tahun 2015 tentang Kebijakan Pengadaan Gabah/Beras dan Penyaluran Beras oleh Pemerintah. Untuk harga pembelian Gabah Kering Panen (GKP) dalam negeri dengan kadar air maksimum 25 persen dan kadar hampa maksimum 10 persen Rp3.700 per kilogram (kg) di petani, atau Rp 3.750 per kg di penggilingan.

Namun, pemerintah kemudian mengeluarkan kebijakan untuk menambah HPP sebesar 10 persen untuk masing-masing kondisi gabah. Dengan demikian, HPP GKP saat ini menjadi Rp4.070 per kg, HPP Gabah Kering Giling (GKG) menjadi Rp5.115 per kg dan beras Rp 8.030 per kg.

Serapan beras Bulog Sulutgo masih sangat minim, karena harga jual petani yang lebih tinggi dari Harga Pembelian Pemerintah (HPP). "Kami tidak bisa memaksa petani menjual ke Bulog karena harga jual di pasar masih lebih tinggi, yakni di kisaran Rp9.000 hingga Rp10.000 per kilogram," katanya.

Eko mengatakan, HPP pemerintah hanya sebesar Rp7.300 per kg. Harga ini membuat petani dan pengusaha di penggilingan masih enggan menjual beras ke Bulog. Namun, Bulog terus berupaya menyerap beras lokal dan bekerja sama dengan para gapoktan, Dinas Pertanian, TNI maupun mitra lainnya.

"Harus diakui beras produksi petani di Sulut dan Gorontalo jenis premium sehingga lebih mahal," ujarnya.

Dia menambahkan, masyarakat juga tidak perlu khawatir dengan stok beras Sulut saat ini di tengah pandemi Covid-19. Persediaan masih cukup banyak dan mampu memenuhi kebutuhan di daerah tersebut, hingga ketahanan pangan pad Desember 2020.


Editor : Maria Christina