Masa Pandemi Covid-19, Sulut Ekspor 14,4 Ton Bunga Pala ke India

Antara ยท Senin, 29 Juni 2020 - 11:44 WIB
Masa Pandemi Covid-19, Sulut Ekspor 14,4 Ton Bunga Pala ke India
Karantina Pertanian Manado saat melakukan monitoring kegiatan fumigasi komoditas bunga pala yang akan diekspor. (Foto: ANTARA/Guido Merung)

MANADO, iNews.idSulawesi Utara sebagai sentra penghasil bunga pala terbesar di kawasan timur Indonesia mengekspor 14,4 ton fuli ke India di masa pandemi Covid-19. Sebelum diberangkatkan, komoditas tersebut dilakukan fumigasi untuk menjamin kualitas dan kesehatannya.

"Kami melakukan fumigasi menggunakan fosfin (PH3) terhadap 14,4 ton bunga pala milik PT GIP senilai Rp4,7 miliar sebelum dimasukkan dalam kapal untuk diekspor," ujar Kepala Karantina Pertanian Manado Donni Muksydayan, Senin (29/6/2020).

Tujuan utama dari fumigasi ini untuk mencucihamakan komoditas sehingga tidak ada serangga. Hal ini sudah menjadi syarat ekspor dari negara tujuan sehingga dapat diterbitkan phytosanitary certificate (PC).

Dia menjelaskan, kegiatan ekspor ini sudah yang ke-50 kalinya dihitung berdasarkan jumlah PC yang diterbitkan Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Manado sepanjang tahun ini. Dalam pemeriksaan ini mengikuti protokol sebagaimana penerapan normal baru dengan harapan semoga ekspor dapat lebih bergairah.

Berdasarkan data sistem perkarantinaan, IQFAST, komoditas bunga pala yang diekspor Januari-Juni 2020 mencapai 78,9 ton senilai Rp412 miliar atau mengalami peningkatan 21,78 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp265 miliar.

Negara tujuan ekspor, selain India, juga beberapa negara Timur Tengah dan Eropa yang akan menggunakannya sebagai bahan dasar pembuatan makanan, minuman, kosmetik hingga parfum.

Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) Ali Jamil mengatakan, sejalan dengan arah program Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam meningkatkan tiga kali lipat ekspor komoditas pertanian dalam empat tahun ke depan, maka terus dilakukan berbagai inovasi sistem digitalisasi layanan ekspor.

Selain sistem permohonan pemeriksaan karantina (PPK) online yang telah jalan, aplikasi peta potensi komoditas pertanian berorientasi ekspor atau IMACE juga akan terus dimaksimalkan. Dia berharap aplikasi tersebut dapat digunakan sebagai landasan kebijakan dalam mendorong pembangunan komoditas pertanian berbasis kawasan berorientasi ekspor.

"Pemerintah daerah dapat memanfaatkan peta ini untuk mengembangkan potensi wilayah dan kami pun akan lebih mudah memfasilitasi ekspornya," kata Ali.


Editor : Donald Karouw