Mentan SYL Lepas Ekspor 6 Komoditas Pertanian Sulut ke 7 Negara

Arther Loupatty ยท Minggu, 30 Agustus 2020 - 23:51 WITA
Mentan SYL Lepas Ekspor 6 Komoditas Pertanian Sulut ke 7 Negara
Menteri Pertanian periksa hasil pertanian yang akan di ekspor ke 7 negara, Minggu (30/8/2020) (Foto : Istimewa)

MANADO, iNews.id - Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) melepas ekspor enam komoditas pertanian asal Sulawesi Utara (Sulut). Keenam komoditas itu yakni rempah pala biji, cengkeh, kelapa parut, minyak kelapa, santan kelapa dan bunga pala sebanyak 3.766 ton. Rempah-rempah itu akan diekspor ke Jerman, China, India, Singapura, Vietnam, Jepang dan Turki.

Syahrul mengatakan, semua komoditas pertanian itu telah melewati serangkaian tindakan karantina pertanian. “Semua komoditas ini sudah memenuhi persyaratan negara tujuan," kata Mentan SYL di Komplek Kantor Badan Penelitian Tanaman Palma (BALITPALMA), Minahasa Utara, Minggu (30/8/2020).

SYL mengungkapkan komoditas unggulan ekspor asal Sulut senilai Rp. 62,1 milyar ini telah dipastikan sehat dan aman. Sekaligus pula memenuhi persyaratan sanitari dan fitosanitari (SPS Measures) sesuai aturan dari 7 negara tujuan tersebut.

Menurutnya, kebijakan hambatan tarif tidak lagi populer di perdagangan global saat ini dan berganti dengan kebijakan hambatan teknis dalam perdagangan atau technical barrier to trade. Ekspor ini juga mencegah hambatan yang diakibatkan oleh hal-hal teknis seperti kualitas produk, pengepakan, penandaan, dan persyaratan keamanan pangan.

"Oleh karenanya pemenuhan persyaratan sanitari dan fitosanitari atau SPS Measure pada produk pertanian yang diperdagangkan menjadi sangat penting," ujarnya

Balai Karantina Pertanian (Barantan) selaku otoritas karantina memiliki peran strategis untuk menjamin kesehatan dan keamanan produk pertanian tanah air mampu bersaing.

Lebih lanjut SYL menyebutkan selain protokol, Barantan juga mendorong proses integrasi layanan digital berupa layanan sertifikat digital atau e-Cert ke berbagai negara. Sertifkat dikirim secara elektronik dahulu, setelah disetujui barang dikirim sehingga pasti diterimanya tidak ada lagi penolakan atau re-ekspor.

"Saat ini baru empat negara, Australia, New Zealand, Vietnam dan Belanda. Saya minta kalau bisa seluruh negara, ini targetnya," katanya.


Editor : Arther Loupaty