Update Banjir dan Longsor Bolsel: 1 Korban Tewas, 22.655 Jiwa Terdampak

Donald Karouw ยท Selasa, 04 Agustus 2020 - 15:45 WITA
Update Banjir dan Longsor Bolsel: 1 Korban Tewas, 22.655 Jiwa Terdampak
Jembatan rusak di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), akibat dilanda banjir. (Foto: BNPB)

JAKARTA, iNews.id – Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Sulawesi Utara (Sulut), dilanda bencana banjir bandang dan tanah longsor pada 24 dan 31 Juli lalu. Data terbaru dari Tim Reaksi Cepat (TRC) BNPB, bencana ini menelan satu korban jiwa dan 7.046 kepala keluarga (KK) atau 22.655 jiwa terdampak.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Raditya Jati mengatakan, selain berdampak pada 22.655 jiwa, bencana banjir bandang dan tanah longsor itu juga merusak permukiman warga. Sedikitnya 64 rumah rusak berat dan 29 lainnya hanyut.

“Selain merusak permukiman, bencana banjir juga merusak beberapa jembatan, seperti jembatan Kombot Timur, Salongo 1, Salongo Besar, Bakida, Sinandaka dan Pakuku Jaya,” katra Raditya Dika dalam siaran pers, Selasa (4/8/2020).

Sejumlah permukiman di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) direndam banjir. (Foto: BNPB)
Sejumlah permukiman di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) direndam banjir. (Foto: BNPB)

Pascabencana tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bolsel telah menetapkan status tanggap darurat 14 hari yang berlaku dari 24 Juli hingga 6 Agustus 2020. Ini dilakukan untuk memudahkan akses penanganan darurat dalam merespon dua kejadian bencana di Kabupaten Bolsel.

Diketahui, dua kejadian bencana terjadi hampir bersamaan di Bolsel. Pada 24 Juli 2020, banjir merendam tujuh kecamatan. Sementara pada 31 Juli hingga awal Agustus 2020, banjir kembali menggenangi dan bahkan merusak permukiman.

“Tak hanya banjir, longsor terjadi di beberapa titik yang menyebabkan distribusi logistik bantuan terhambat,” ujar Raditya.

Pemerintah daerah dan unsur-unsur terkait telah membentuk pos komando (posko) untuk melakukan respons darurat. Mereka telah menyalurkan makanan siap saji, air bersih dan bahan makanan kepada warga terdampak. Posko mengidentifikasi tiga kecamatan terisolasi sehingga pendistribusian bantuan logistik dilakukan melalui jalur perairan.

“Ketiga kecamatan tersebut yakni Helumo, Tomini dan Posigadan. Adapun kebutuhan yang diperlukan warga terdampak antara lain makanan siap saji, perlengkapan dapur, kasur, tikar, selimut, tenda pengungsi, serta paket sandang,” katanya.

Air bersih dibutuhkan warga karena distribusi air terganggu setelah jaringan pipa air PDAM sebagian besar rusak. Di sisi lain, keterbatasan mobil tangki air menghambat pendistribusian kepada warga terdampak.

Raditya menambahkan, bantuan logistik BNPB telah tiba di Manado dan siap untuk pengiriman lanjutan menuju Kabupaten terdampak. TRC BNPB di lokasi bencana telah mengoordinasikan pendistribusian bantuan logistik dengan bantuan helikopter untuk menjangkau wilayah yang terisolasi. “TRC BNPB telah berkoordinasi dengan kepala daerah dan jajaran untuk turut melakukan kaji cepat dan pendampingan posko,” ujarnya.

Posko juga menurunkan ekskavator untuk membersihkan lumpur maupun material longsor pada ruas jalan penghubung antara Kabupaten Bolaang Mongondow dengan Bolaang Mongondow Selatan. Titik longsor terpantau di ruas jalan Doloduo – Molibagu, jalan Onggunoi-Pinolosian, jalan Molibagu-Momalia longsor (Desa Pinolantungan), jalan Desa Tabilaa dan jalan Molibagu (belakang kuburan Molibagu) dengan kondisi gorong-gorong ambruk sekitar 3 meter.

Potensi Hujan Lebat

Raditya mengatakan, melihat kronologi kejadian, sejak 31 Juli 2020 pukul 18.45 waktu setempat sampai 1 Agustus, hujan lebat masih turun di wilayah Bolsel. Kondisi ini menyebabkan Sungai Bolangaso, Sungai Toluaya, Sungai Salongo, Sungai Nunuka, Sungai Mongolidia, Sungai Milangodaa dan beberapa anak sungai lain meluap menggenangi permukiman masyarakat dan merusak rumah, fasilitas umum, serta infrastruktur.

Berdasarkan Analisis dan Prakiraan Hujan BMKG Nomor 7 bulan Juli 2020, diprediksi curah hujan di beberapa wilayah Provinsi Sulut pada Agustus hingga Oktober berkisar dari 201 mm-hingga 400 mm. Menyikapi potensi yang masih tinggi, BNPB mengimbau masyarakat selalu waspada dan siap siaga mengantisipasi dampak fenomena alam tersebut, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor dan angin kencang.


Editor : Maria Christina