Selain itu, produksi CPO dari Kanada sebagai pemasok minyak nabati untuk canola oil turun 6 persen. Belum lagi, ada krisis energi di beberapa negara seperti Cina, India dan negara-negara di Eropa.
Selain faktor eksternal, Oke menyebut, terdapat faktor internal yang menyebabkan kenaikan harga minyak goreng. Menurutnya, produsen minyak goreng di Indonesia kebanyakan belum terafiliasi dengan kebun sawit penghasil CPO, sehingga produsen minyak goreng tergantung pada harga CPO global.
Lanjutnya, Harga Eceran Tertinggi (HET) minyak goreng dipatok di angka Rp11.000. Saat penyusunan HET tersebut, harga CPO masih berkisar antara 500-600 dolar AS per metrik ton.
"Saat ini posisinya sudah di 1.365 dolar AS per metrik ton dan itu langsung berpengaruh, karena entitas produsen minyak goreng ada 435 dan didominasi oleh ketergantungan dari CPO, karena tidak semua produsen terafiliasi dengan kebun sawitnya," ucap Oke.
Editor : Cahya Sumirat
Artikel Terkait