Gubernur Gorontalo Dorong Satu Kecamatan Satu Sekolah Unggulan

Subhan Sabu ยท Selasa, 12 Januari 2021 - 18:34:00 WITA
Gubernur Gorontalo Dorong Satu Kecamatan Satu Sekolah Unggulan
Gubernur Rusli di SMK Dungaliyo untuk meresmikan pekerjaan fisik SMK se Gorontalo tahun anggaran 2020. (Foto: Istimewa)

GORONTALO, iNews.id - Gubernur Gorontalo Rusli Habibie mendorong Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Dikbudpora) untuk mewujudkan satu kecamatan satu sekolah unggulan tingkat SMA/SMK. Hal itu menurutnya penting agar kualitas pendidikan Gorontalo merata dan tidak menumpuk di perkotaan.

“Tolong pak kadis dirancang di setiap kecamatan ada sekolah yang jadi unggulan. Baik itu kualitas gurunya dan fasilitasnya sama dengan sekolah unggulan di kota. Agar tidak ada yang berebut masuk ke SMA 1 dan SMA 3 Kota Gorontalo (sekolah favorit),” kata Gubernur Rusli saat meresmikan gedung dan sarana prasarana (sarpras) di SMK Dungaliyo, Kabupaten Gorontalo, Selasa (12/1/2021).

Menurut Rusli, penumpukan siswa di perkotaan disebabkan kurang meratanya kualitas guru dan sarpras di tiap kecamatan. Ia mengakui setiap awal tahun pelajaran harus berurusan dengan orang tua siswa yang memaksa masuk ke SMA favorit, padahal sekarang sudah diatur dengan sistem rayonisasi.

“Contohnya SMA 1 Kota Gorontalo. Setiap penerimaan siswa baru mereka itu paksa, bahkan ada yang datang ke rumah saya minta anaknya masuk di situ. Ada yang mengaku keluarga, tim sukses dan lain-lain. Ini yang harus kita atur,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Dikbudpora Yosef P Koton menjelaskan pemerataan dan perluasan akses pendidikan SMA/SMK di Provinsi Gorontalo sudah jauh lebih baik. Tinggal tersisa 10 kecamatan di empat kabupaten yang belum memiliki sekolah tingkat SMA/SMK.

“Alhamdulillah saat rapat pimpinan OPD, Bapak Gubernur memerintahkan saya untuk mengusulkan anggaran tambahan dan sudah saya usulkan ke Pak Sekda,” jelas Yosef.

Dari aspek sarpras SMK di Provinsi Gorontalo, Yosef menyebut Provinsi Gorontalo masuk 10 besar daerah masuk kategori cukup baik mutu sarprasnya. Meski begitu, jika mengacu laporan Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) dengan delapan Standar Nasional Pendidikan baru berada pada level 5.

“Data LPMP menyebutkan baru ada 20 dari 132 sekolah yang mencapai SNP, sisanya berada pada level SNP 1 sampai 4. Oleh karena itu masih membutuhkan arahan dan perhatian yang lebih dari Bapak Gubernur,” katanya.

Editor : Cahya Sumirat

Halaman : 1 2