Habib Bahar Dituntut Hukuman 5 Tahun Penjara, Begini Penjelasan JPU

Dicky Wismara , Agus Warsudi · Kamis, 28 Juli 2022 - 18:48:00 WITA
Habib Bahar Dituntut Hukuman 5 Tahun Penjara, Begini Penjelasan JPU
Habib Bahar dituntut hukuman 5 tahun penjara karena dinilai terbukti menyebarkan hoaks. (Foto: Istimewa)

BANDUNG, iNews.id - Jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejati Jabar dan Kejari Balebandung menuntut hukuman 5 tahun penjara untuk Habib Bahar bin Smith. JPU menilai Habib Bahar terbukti menyebarkan hoaks saat ceramah di Margahayu, Kabupaten Bandung.

Berkas tuntutan dibacakan JPU dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Jalan RE Martadinata, Kota Bandung, Kamis (28/7/2022). “Menuntut terdakwa HB Assayid Bahar bin Ali bin Smith dengan pidana penjara selama 5 tahun,” kata JPU.

JPU menyatakan, Habib Bahar terbukti menyebarkan kabar bohong dalam ceramah yang berlangsung di acara Maulid Nabi Muhammad, Desa Nanjung, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung pada akhir 2021 lalu. Perbuatan Habib Bahar itu melanggar Pasal 14 ayat 1 UU Nomor 1 Tahun 1946 Jo Pasal 55 KUHPidana. 

Sementara itu, ratusan pendukung Habib Bahar menggelar aksi di depan pagar PN Bandung. Mereka tidak bisa masuk ke ruang sidang karena kapasitas terbatas. Polisi juga menjaga ketat ruang sidang. Setiap orang yang datang diperiksa semua barang bawaannya. Para petugas melarang orang yang tidak berkepentingan masuk ke ruang sidang.

Diketahui, Habib Bahar Smith dijerat pasal berlapis UU ITE dan UU Nomor 1 tahun 1946. Dalam perkara ini, Habib Bahar didakwa melakukan tindak pidana sebagaimana diatus dalam Pasal 14 ayat 1 UU RI Nomor 1 tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP sebagaimana dakwaan pertama. Pasal 15 ayat 1 UU RI Nomor 1 tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana jucto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Habib Bahar juga dianggap melanggar Pasal 28 ayat (2) Jo Pasal 45A ayat (2) UU RI nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI nomor 11 tahun 2008 tentang ITE Jo Pasal 55 ayat  (1) ke-1 KUHP sebagaimana dakwaan kedua.  

Editor : Cahya Sumirat

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel: