Pascabanjir Bandang Bolsel, 3 Kecamatan Masih Terisolasi

Donald Karouw ยท Rabu, 05 Agustus 2020 - 13:58 WITA
Pascabanjir Bandang Bolsel, 3 Kecamatan Masih Terisolasi
Banjir bandang di Kabupaten Bolsel, Sulut. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, iNews.id – Pascabanjir bandang dan longsor di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Sulawesi Utara (Sulut), tiga kecamatan masih terisolasi. Akibatnya pendistribusian bantuan logistik dilakukan melalui jalur perairan.

"Ketiga kecamatan yang terisolasi tersebut, yakni Kecamatan Helumo, Tomini, dan Kecamatan Posigadan," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Raditya Jati dalam siaran pers, Selasa (4/8/2020).

Pemerintah daerah dan unsur-unsur terkait telah membentuk pos komando (posko) untuk melakukan respons darurat. Mereka telah menyalurkan makanan siap saji, air bersih dan bahan makanan kepada warga terdampak.

"Adapun kebutuhan yang diperlukan warga terdampak antara lain makanan siap saji, perlengkapan dapur, kasur, tikar, selimut, tenda pengungsi, serta paket sandang,” kata Raditya Jati.

Warga saat ini juga membutuhkan air bersih karena distribusi air terganggu setelah jaringan pipa air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sebagian besar rusak. Di sisi lain, keterbatasan mobil tangki air menghambat pendistribusian kepada warga terdampak.

Bantuan logistik BNPB sebelumnya telah tiba di Manado dan dikirimkan menuju kabupaten terdampak. TRC BNPB di lokasi bencana telah mengoordinasikan pendistribusian bantuan logistik dengan bantuan helikopter untuk menjangkau wilayah yang terisolasi.

“TRC BNPB telah berkoordinasi dengan kepala daerah dan jajaran untuk turut melakukan kaji cepat dan pendampingan posko,” ujarnya.

Posko juga menurunkan ekskavator untuk membersihkan lumpur maupun material longsor pada ruas jalan penghubung antara Kabupaten Bolaang Mongondow dengan Bolaang Mongondow Selatan. Titik longsor terpantau di ruas jalan Doloduo – Molibagu, jalan Onggunoi-Pinolosian, jalan Molibagu-Momalia longsor (Desa Pinolantungan), jalan Desa Tabilaa dan jalan Molibagu (belakang kuburan Molibagu) dengan kondisi gorong-gorong ambruk sekitar 3 meter.

Diketahui, Kabupaten Bolsel dilanda bencana banjir bandang dan tanah longsor pada 24 dan 31 Juli lalu. Data dari Tim Reaksi Cepat (TRC) BNPB, bencana ini menelan satu korban jiwa dan 7.046 kepala keluarga (KK) atau 22.655 jiwa terdampak.

Bencana banjir bandang dan tanah longsor itu juga merusak permukiman warga. Sedikitnya 64 rumah rusak berat dan 29 lainnya hanyut. Selain merusak permukiman, bencana banjir juga merusak beberapa jembatan, seperti jembatan Kombot Timur, Salongo 1, Salongo Besar, Bakida, Sinandaka dan Pakuku Jaya.

Pascabencana tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bolsel telah menetapkan status tanggap darurat 14 hari yang berlaku dari 24 Juli hingga 6 Agustus 2020. Ini dilakukan untuk memudahkan akses penanganan darurat dalam merespons dua kejadian bencana di Kabupaten Bolsel.


Editor : Maria Christina