5 Fakta Kasus Ibu dan Anak Kandung di Bitung Berhubungan Intim

Arther Loupatty ยท Rabu, 22 Juli 2020 - 15:10 WIB
5 Fakta Kasus Ibu dan Anak Kandung di Bitung Berhubungan Intim
Dengar pendapat warga dan pemerintah setempat kasus ibu dan anak hubungan intim (Foto : iNews.id/Arther)

BITUNG , iNews.id - Warga Bitung digemparkan dengan penangkapan seorang ibu berinisial RT (51) yang berhubungan intim dengan anak sulungnya berinisial TP (26). Peristiwa ini terungkap atas laporan anak perempuan RT atau adik TP ke Ketua RT di Kompleks Nabati Bitung, di Kecamatan Maesa Kota Bitung, Sulawesi Utara.

Kedua pelaku lalu ditangkap tim Tarsius Polres Bitung yang dipimpin Kepala Tim Bripka Handry Koagouw pada Sabtu (18/07/2020).

Berikut 5 fakta dari kasus tersebut :

1. Suami Bekerja di Laut

Polsek Maesa langsung melakukan pertemuan dengan keluarga kedua pelaku, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Kota Bitung Merianti Dumbela, Camat Maesa HP Posumah dan Lurah Bitung Barat Dua Ferdy Janis.

Dalam pertemuan itu, juga dilibatkan kepala rumah tangga atau sang suami yang sedang melaut. Melalui sambungan telepon disampaikan peristiwa ini, dan disambungkan berbicara dengan sang istri dan anak laki-laki.

Kapolsek Maesa Kompol Elia Maramis mengatakan suami RT sedang bekerja di laut. Saat ini kapalnya berada di wilayah Marauke.

"Sepenuhnya penanganan kasus ini diserahkan kepada pemerintah setempat dan kepolisian. Sang suami baru akan kembali dari melaut Desember 2020," kata Kapolsek.

2. Sudah Berhubungan Intim Beberapa Kali

Awalnya kedua pelaku mengaku baru sekali melakukan hubungan dan mabuk menjadi penyebabnya. Setelah diselidiki polisi, keduanya sudah melakukan beberapa kali bahkan dipergoki sang anak sebanyak 3 kali.

RT bekerja di perusahan ikan, tiba duluan di rumah. Lalu beberapa saat kemudian anak pertama dari tiga bersaudara tiba di rumah dalam keadaan pengarus miras. "Ada ba minum di kapal. Mama ada ba minum lorong," kata RT saat diminta keterangan di Mapolsek Maesa.

Pria yang belum menikah disuruh ibunya mandi. Lalu disuruh tidur di lantai beralaskan tikar bersama sang ibu. Saat itulah keduanya beraksi dalam rumah yang dipergoki anak perempuan.

Kapolsek Maesa Kompol Elia Maramis mengatakan, sudah ada beberapa saksi yang diperiksa polisi dalam kasus ini, di antaranya anak perempuan ibu tersebut. "Sesuai keterangan anak perempuan korban bahwa dia sudah menyaksikan tiga kali ibu dan kakaknya berhubungan badan," kata Elia

Hanya saja, anak perempuannya tidak pernah melaporkan kejadian atau perbuatan asusila ibu dan kakaknya. "Pernyataan bahwa melakukannya saat mabuk, itu hanya mencari alasan pembenaran," katanya.

3. Sudah Pernah Diingatkan Keluarga

Kompol Elia Maramis, Kapolsek Maesa, dalam keterangannya mengatakan mabuk hanya alasan dari para pelaku.

Katanya, berdasarkan Informasi yang dihimpun kepolisian, yang dirangkum dari keluarga pelaku dan sejumlah warga memiliki kebiasaan tidak baik. RT kerap konsumsi minuman keras (miras), keluarga sudah mengingatkan RT.

"Keluarga pelaku perempuan, selalu memberitahu dan mengingatkan agar jangan melakukan kebiasaan itu tapi tidak diindahkan," kata Kapolsek Kompol Elia Maramis

4. Menyesal

Di Mapolsek Maesa, sang ibu tampak menitikkan air mata menyesali perbuatannya. Sementara pelaku laki-laki mengaku sudah menyesali perbuatannya dan meminta maaf kepada sang ibu dan keluarganya."Saya sadar perbuatan yang dilakukan tidak benar," ucap TP.

TP adalah anak sulung dari tiga bersaudara. Sedangkan seorang adiknya meninggal dunia 2 tahun silam.

5. Diusir dari Kampung

Camat Maesa HP Posumah mengatakan, pihak keluarga dan masyarakat kompleks Nabati Bitung, di Kecamatan Maesa Kota Bitung tidak menerima lagi keberadaan keduanya. Rumah tersebut dihuni kedua pelaku dan seorang anak perempuan.

"Ada opsi yang ditawarkan, kebetulan pelaku laki-laki besar dan tumbuh di kampung halaman sang ayah. Begitu juga dengan pelaku perempuan ada keluarga di luar Bitung, nantinya akan berproses lebih lanjut," kata Camat Posumah.

Pemerintah dan kepolisian melakukan tatap muka dengan warga di lokasi kejadian. "Dalam pertemuan itu meminta saran kepada tokoh masyarakat dan tokoh agama tentang keberadaan kedua pelaku tersebut," kata Kompol Elia Maramis.

Sekretaris Kecamatan Maesa Felix Hengkeng memberikan saran, agar kedua pelaku dugaan perzinahan tersebut harus dipisahkan dari tempat tinggal agar tidak terjadi lagi kejadian serupa.

Lalu muncul saran dari para tokoh agama dan tokoh masyarakat, yang menyatakan perlu diadakan pendekatan kepada pelaku dan diberikan pembinaan mental serta bimbingan Rohani.

"Keputusan bersama yang mana kedua pelaku perzinahan antara ibu dan anak harus dipisahkan tempat tinggal dan menolak untuk kembali tinggal menetap di Kelurahan Bitung Barat Dua Kecamatan Maesa," ujar Kapolsek.


Editor : Arther Loupaty