BI Sulut: Kota Kotamobagu Inflasi Sebesar 0,23 Persen

Subhan Sabu · Selasa, 02 Februari 2021 - 16:55:00 WITA
BI Sulut: Kota Kotamobagu Inflasi Sebesar 0,23 Persen
Bank Indonesia mencatat inflasi tahunan Kotamobagu pada Januari 2021 tercatat sebesar  3,13 persen (yoy).(Foto: Istimewa)

MANADO, iNews.id - Kota Kotamobagu mencatatkan inflasi sebesar 0,23 persen (mtm). Angka inflasi ini tercatat lebih rendah dibandingkan inflasi Desember 2020 yang mencapai 0,65 persen (mtm). 

Dengan demikian, inflasi tahunan Kotamobagu pada Januari 2021 tercatat sebesar  3,13 persen (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulut Arbonas Hutabarat mengatakan bahwa inflasi di Kotamobagu tercatat sebesar 0,23 persen (mtm) lebih rendah dari bulan sebelumnya. 

"Salah satu faktor penahan tekanan inflasi di Kotamobagu adalah pergerakan harga kelompok makanan, minuman dan tembakau. Ketiganya mengalami deflasi sebesar 0,31 persen (mtm) dengan kontribusi inflasi sebesar -0,11 persen (mtm) meski komoditas strategis cabai rawit dan tomat menunjukkan inflasi sebagaimana di Manado," tutur Arbonas, Selasa (2/2/2021).

Penurunan harga kelompok ini terutama didukung oleh penurunan harga ikan malalugis, cakalang diawetkan, telur ayam ras, daun bawang, dan bawang merah. Tekanan inflasi Kotamobagu pada Januari 2021, disebabkan oleh inflasi pada kelompok kesehatan dan kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran yang secara total memberikan kontribusi sebesar 0,24 persen (mtm). 

"Komoditas kedua kelompok yang tercatat menyumbang inflasi cukup tinggi di antaranya obat dengan resep, tarif laboratorium, martabak, dan mie," ujar Arbonas.

Kenaikan harga komoditas yang relatif jarang bergerak tersebut mengindikasikan adanya perubahan permintaan ataupun suplai komoditas tersebut selama Januari 2021. Khusus di Kotamobagu, disamping faktor tingginya volatilitas harga bahan baku yang ikut menjadi pendorong kenaikan harga sebagian komoditas tersebut yang menjadi produk turunannya.

"Bank Indonesia dan TPID Sulawesi Utara memandang meningkatnya tekanan inflasí di Kota Manado dan Kotamobagu menunjukan bahwa permintaan masih berjalan meski terjadi penurunan aktivitas sosial ekonomi. Aktivitas ekonomi yang terus berada dalam tren positif sepanjang triwulan V 2020 pada Januari 2021 terus menunjukan penurunan," kata Arbonas.

Pembatasan jam operasional dalam rangka penanggulangan Covid-19 juga menurutnya jadi penyebab menurunnya tingkat aktivitas sosial ekonomi masyarakat Sulawesi Utara. Meski demikian, peningkatan tekanan inflasi yang terjadi memberikan indikasi bahwa terdapat realisasi permintaan di tengah pasokan sebagian komoditas yang cenderung terbatas sehingga memicu kenaikan harga. 

Aktivitas sosial ekonomi masyarakat masih berpotensi meningkat sejalan dengan pengendalian pandemi yang lebih efektif ditunjang bergulirnya proses pemberian vaksin. Peningkatan aktivitas tersebut tentu akan diiringi dengan peningkatan permintaan masyarakat, sehingga kenaikan tekanan inflasi berpotensi terjadi kembali.

"Ke depan, pengendalian inflasi masih akan dipengaruhi oleh dinamika aktivitas ekonomi masyarakat," tuturnya.

Adapun untuk tetap mengendalikan tekanan inlasi pada targetnya, Bank Indonesia memandang bahwa sinergi seluruh dinas dan Kementerian/Lembaga terkait untuk menjaga ketersediaan pasokan komoditas strategis. Ketersediaan pasokan dan manajemen stok pangan akan lebih efektif dan efisien bila dilakukan antar daerah dengan memanfaatkan sumber daya daerah yang berlebih. 

Editor : Cahya Sumirat

Halaman : 1 2