Dugaan Penyebab Bencana Abrasi Pantai Amurang, Ini Penjelasan Ilmiah Peneliti BRIN

Antara · Sabtu, 18 Juni 2022 - 13:08:00 WITA
Dugaan Penyebab Bencana Abrasi Pantai Amurang, Ini Penjelasan Ilmiah Peneliti BRIN
Kondisi bangunan rumah yang rusak akibat abrasi di sekitar Pantai Boulevard, Teluk Amurang, Minahasa Selatan, Rabu (15/6/2022). (ANTARA/HO-BRIN)

JAKARTA, iNews.id - Bencana abrasi terjadi di Pantai Boulevard Amurang, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, Rabu (15/6/2022). Peristiwa ini menyebabkan jembatan penghubung dari Kelurahan Ranoiapo, Uwuran Satu menuju ke Kelurahan Lewet, Bitung, Ranomea dan Pondang lenyap akibat longsor ke laut.

Tak hanya itu, puluhan bangunan rumah warga dan lainnya juga ikut ambles dan hanyut ditelan air laut. Bahkan kejadian ini menyebabkan ratusan warga mengungsi karena takut kembali ke tempat tinggal mereka.

Atas kejadian bencana tersebut, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Widodo S Pranowo menjelaskan dugaan awal penyebab abrasi/longsoran di Pantai Boulevard Amurang karena sejumlah faktor.

Salah satunya kondisi geografis Pantai Boulevard, Amurang, yang berbatasan langsung dengan Laut Sulawesi. Hal ini membuat teluk sehingga bisa menyebabkan refraksi gelombang laut ketika memasuki teluk.

"Refraksi adalah bergeraknya gelombang menuju pantai yang kemudian mengalami proses perubahan garis puncak gelombang. Kemudian gelombang tersebut berusaha bergerak sejajar dengan kontur garis pantai," ujarnya, Sabtu (18/6/2022).

Faktor lainnya diduga karena pembangkit hidrodinamika arus penggerus Pantai Boulevard. Widodo menjelaskan ada dua gaya pembangkit arus yang datangnya dari arah berlawanan di depan mulut Teluk Amurang, yang kemudian masuk ke Teluk Amurang.

Arus akibat gaya pasang surut bergerak menuju ke arah timur-laut, sedangkan arus akibat angin dan gelombang laut bergerak menuju barat.

"Kedua arus tersebut kemudian bergerak masuk ke Teluk Amurang menciptakan energi yang dahsyat menggerus pantai di dalam Teluk Amurang," kataNYA.

Kemudian jika ditinjau dari data pasang surut pada 15 Juni 2022 antara pukul 13:00 hingga 17:00 waktu setempat, elevasi muka laut di Stasiun Labuhan Uki terlihat lebih tinggi dari pada di Stasiun Manado.

Secara teori, air mengalir dari elevasi lebih tinggi menuju ke yang rendah. Artinya kata dia, akan terjadi aliran massa air yang bergerak ke timur laut, yakni dari arah Stasiun Labuhan Uki menuju ke Stasiun Manado.

"Aliran massa air tersebut akan memiliki peluang yang sangat besar masuk ke Teluk Amurang. Sebab posisi Teluk Amurang berada di antara Labuhan Uki dan Manado," kata Widodo.

Apabila ditinjau dari data angin dan data gelombang, pada 15 Juni 2022 antara pukul 12.00 hingga 14.00 waktu setempat, angin di depan mulut Teluk Amurang bergerak menuju ke arah Barat. Adapun kecepatannya antara 9 hingga 13 knot dan diperkirakan menghasilkan gelombang setinggi 0,6 hingga 0,8 meter.

Angin dan gelombang ini menurutnya, membangkitkan arus yang bergerak masuk ke Teluk Amurang menambah kekuatan arus yang dibangkitkan gaya pasang surut yang juga masuk ke Teluk Amurang.

"Berdasarkan data citra satelit Himawari, selain menampilkan arah pergerakan angin, terlihat juga adanya kumpulan awan yang sangat tebal di atas Teluk Amurang," ucapnya.

Editor : Donald Karouw

Bagikan Artikel: