Tingkatkan Ekspor ke Jepang, BI Dorong Konektivitas KTI
MANADO, iNews.id - Bank Indonesia (BI) terus mendorong konektivitas di Kawasan Timur Indonesia (KTI) guna memenuhi ekspor langsung ke Jepang. Sulawesi Utara (Sulut) belum mampu memenuhi keterisian kargo Manado-Tokyo, sehingga butuh produk serupa dari KTI.
Kepala Perwakilan BI Sulut Arbonas Hutabarat mengatakan keterisian kargo penerbangan langsung Manado-Tokyo belum diutilisasi maksimal.
"Dari kapasitas kargo yang mencapai 35 ton, rata-rata keterisian kargo baru di angka 15,77 ton," ujar Arbonas, Rabu (7/4/2021).
"Tidak bisa lagi bergantung hanya dari Sulut Malut, Maluku dan Gorontalo. Ke depan bisa ambil komoditas dari Papua, Papua Barat dan Sulteng, konektivitas udaranya ada," ujar Arbonas.
Dia mengatakan, selama ini jalur koneksi udara itu belum dimaksimalkan untuk meningkatkan ekspor ke Jepang.
Sejauh ini, ketersediaan penerbangan langsung dari dan ke Manado ke sejumlah provinsi di KTI, yakni Manado-Gorontalo, Manado-Ternate, Manado-Sorong, Manado-Halmahera Utara (Kao) dan Manado-Timika.
Jam berangkat pesawat Garuda Indonesia pada pukul 23.30 Wita setiap hari Rabu justru merupakan kesempatan besar untuk meningkatkan volume ekspor.
"Komoditas perikanan dari daerah-daerah KTI itu bisa dikirim pagi hingga sore karena pesawatnya berangkat malam," ujarnya.
Keberadaan Bandara Sama Ratulangi yang menjadi hub di KTI sangat potensial karena memiliki jarak tempuh yang lebih singkat ke Jepang.
Di sisi lain, terbuka potensi pengembangan ekspor komoditas lain di luar perikanan. Pasar Jepang terbuka untuk komoditas rempah, sayuran, buah, ikan hias, produk hasil perkebunan bahkan general cargo.
Editor: Cahya Sumirat