Kreasi Batik Khas Sulut dari Tangan Terampil di Balik Jeruji Lapas Perempuan Manado

Subhan Sabu · Kamis, 27 Mei 2021 - 15:24:00 WITA
Kreasi Batik Khas Sulut dari Tangan Terampil di Balik Jeruji Lapas Perempuan Manado
Seorang warga binaan Lapas Perempuan Kelas IIB Manado saat membatik. (Foto: MPI/Subhan Sabu)

TOMOHON, iNews.id - Batik merupakan kain tradisional khas Indonesia yang sudah diakui seluruh dunia. Batik memiliki bermacam-macam motif maupun cara pembuatan. 

Di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIB Manado yang berlokasi di Kota Tomohon, Sulawesi Utara (Sulut), warga binaan perempuan (WBP) banyak yang terampil membatik. Kegiatan unggulan ini merupakan salah satu program kemandirian yang diajarkan ke para WBP selain salon kecantikan, spa, barista, maupun ketrampilan membuat bunga dan rajutan.

Kepala Lapas Perempuan Kelas IIB Manado Gayatri Rilowati mengatakan, tugas pokok dan fungsi lapas untuk membina para pelanggar hukum. Dalam pembinaan itu, ada berbagai kegiatan. Salah satunya pembinaan kemandiriaan.

Kegiatan kemandirian ini di antarannya salon kecantikan, spa, barista, handmade membuat bunga dan rajutan, serta membatik.

Kegiatan membatik yang baru sekira sebulan berjalan itu diberi nama LPrado, singkatan dari Lapas Perempuan Manado. Batik merupakan budaya asli Indonesia yang sudah banyak dijumpai di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk di Sulut dengan kain bentenan.

"Saya melihat agak sedikit berbeda, itu kenapa saya tertarik. Saya ingin membuat suatu karya yang berbeda dari yang sudah ada di Sulut, akhirnya kami memilih untuk melakukan kegiatan pembinaan kemandirian berupa membatik dengan maksud menggabungkan teknik yang diadopsi dari Jawa. Karena kebetulan instruktur kami datangkan dari Jawa Tengah dan untuk motifnya sengaja menciptakan khas Sulut," ujar Gayatri kepada MNC Portal Indonesia, Kamis (27/5/2021).

Sudah ada beberapa motif yang berhasil dibuat, hebatnya lagi ada dua yang sudah terdaftar dan keluar sertifikat hak ciptanya. Yakni motif yang diberi nama Pesona Kawanua dan Satwa Puspa Kawanua.

"Ini mungkin berbeda dari tempat yang lain, batiknya juga motifnya khas. Kemudian dihasilkan tangan-tangan terampil dari balik jeruji," kata Gayatri.

Produksi batik ini mulai dipasarkan dilingkup yang kecil terlebih dahulu secara bertahap sampai ke seluruh Sulut. Bahkan ke seluruh Indonesia.

"Kalau memungkinkan, memang itu cita-cita kita. Kami juga akan melebarkan sayap sampai ke seluruh Indonesia, tetapi itu semua tentu saja butuh proses karena kitakan masih baru sekali untuk melangkah. Tetapi kita berusaha bagaimana keinginan untuk menyukseskan kegiatan membantik khususnya batik motif khas Sulut ini bisa berhasil," ujar Gayatri.

Editor : Donald Karouw

Halaman : 1 2