7 Pakaian Adat Sulawesi Utara: Penuh Warna, Indah dan Ada yang Terbuat dari Serat Pisang

Cahya Sumirat ยท Kamis, 11 Agustus 2022 - 10:34:00 WITA
7 Pakaian Adat Sulawesi Utara: Penuh Warna, Indah dan Ada yang Terbuat dari Serat Pisang
Kemajuan kebudayaan suku mewariskan pakaian adat Sulawesi Utara yang turun temurun jadi budaya sampai saat ini.(Foto: Budayanesia)

MANADO, iNews.id - Provinsi Sulawesi Utara terletak di utara Pulau Sulawesi. Daerah yang dikenal dengan sebutan Nyiur Melambai ini di dalamnya terdiri atas beragam suku seperti suku Minahasa, Bolaang Mongondow, Sangihe, Talaud, Gorontalo, Siau bahkan Tionghoa.

Setiap suku di Sulawesi Utara tersebut memiliki pakaian adat yang khas antara satu suku dengan suku lainnya. Sering jalan menyebut, jika dilihat sepintas tampak sama, namun aksesoris dan perlengkapan yang dikenakan di tiap busana berbeda.

Pakaian adat Sulawesi Utara selain beragam juga memiliki fungsi berbeda. Ada pakaian yang digunakan khusus untuk menikah, ada pula yang hanya digunakan dalam acara adat.

Nah, berikut ini 7 pakaian adat Sulawesi Utara yang masih sering dipakai hingga sekarang.

1.Pakaian Adat Sangihe dan Talaud

Pakaian adat Sangihe Talaud, (Foto : pariwisata Indonesia)
Pakaian adat Sangihe Talaud, (Foto : pariwisata Indonesia)

Daerah Kepulauan Sangihe dan Talaud termasuk salah satu daerah di Sulawesi Utara yang juga mempunyai pakaian adat adat sendiri dari Suku Sangihe Talaud.

Busana tersebut biasanya dikenakan ketika acara adat bernama Upacara Tulude. Pakaian adat yang satu ini terbuat dari bahan serat kofo, yakni sejenis tanaman pisang dan punya serat batang yang kuat.

Prosesnya, serat kofo tersebut kemudian dipintal, ditenun dan dijahit menjadi pakaian yang dinamakan Busana Laku Tepu.

Laku Tepu sendiri berbentuk baju lengan panjang dengan untaian sampai ke tumit.

Pria dan wanita diperbolehkan untuk memakai Laku Tepu dan biasanya dilengkapi dengan aksesoris lain seperti popehe (ikat pinggang), bandang (selendang bahu), paporong (penutup kepala) dan kahiwu (rok rumbai).

Editor : Cahya Sumirat

Bagikan Artikel: