Waspada Predator Seks Anak Sudah Mengancam di Sulut

Jefry Langi ยท Sabtu, 11 Juli 2020 - 23:34 WITA
Waspada Predator Seks Anak Sudah Mengancam di Sulut
Kekerasan terhadap anak dan kekerasan seksual anak dibawah umur (Istimewa)

MANADO, iNews.id - Kekerasan terhadap anak, termasuk kekerasan seksual terus menjadi momok menakutkan. Demikian juga halnya di Sulawesi Utara (Sulut) sering terjadi kekerasan seksual terhadap perempuan dibawah umur.

Dari data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Sulut mencatat, sebanyak 150 kasus kekerasan terhadap anak terjadi di tahun 2019, diantara itu ada 28 kasus kekerasan seksual.

Hal ini menjadi perhatian dari Lucky Schramm, pengamat hukum dan kemasyarakatan, dimana kasus eksploitasi terhadap 305 anak yang dilakukan oleh Francois Abello Camille. Sebagai warga negara asing yang datang ke Indonesia dan membuat kasus Predator anak yang terungkap harus ditindak secara serius, termasuk kasus yang ada di Sulut harus mendapat hukuman berat.

"Dengan ditangkapnya Predator anak asal Prancis Francois Abello Camille (65) yang menjadi pemberitaan utama sejumlah media. Dimana dengan bermodalkan perlengkapan fotografi, Frans menawarkan jasa fotografer kepada anak-anak jalanan dengan iming-iming jadi fotomodel,"ujar Lucky, Sabtu (11/7/2020).

Sangat mengejutkan pada saat Polda Metro Jaya membuka laptop miliknya ditemukan 305 video dan foto anak. Kekerasan seksual masih banyak kejadian di daerah yang lain termaksud di Sulut.

Lanjut Schramm, dengan terungkapnya berbagai kekerasan seksual terhadap anak, masyarakat harus mengawal proses hukum yang berjalan agar pelaku mendapatkan hukuman yang seberat-beratnya.

"Bila perlu pelaku kejahatan dengan pemberatan harus di kebiri kimia (Kastrasi) agar pelaku atau orang yang akan melakukan kekerasan seksual terhadap anak menjadi takut dan tidak akan melakukannya lagi," kata Schramm.

Sementara itu Irlend Rumengan, Advokat yang juga aktifis perempuan dan perlindungan anak menyampaikan bahwa sesuai dengan UU No. 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Dalam Pasal 76 D menyebutkan "Setiap Orang dilarang melakukan Kekerasan atau ancaman Kekerasan memaksa Anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.

Dan bunyi Pasal 76 E Setiap Orang dilarang melakukan Kekerasan atau ancaman Kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul.

Untuk pelaku yang melanggar pasal tersebut diancam dengan pidana kurungan minimal 5 (lima) tahun penjara dan maksimal 15 (tahun) dan denda paling banyak lima milyar.

Vebry Haryadi sebagai Sekretaris LBH Projo Sulut yang bekerjasama dengan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Sulut, mengharapkan agar Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara melakukan sosialisasi UU tersebut.

"Sehingga kiranya masyarakat agar apabila mengetahui segera melakukan pelaporan agar kejadian Predator Anak tidak terjadi di Sulut karena dampak yang ditimbulkan akan merusak masa depan mereka," kata Haryadi.


Editor : Arther Loupaty